Kabut Asap
Sabtu, 17 Oktober 2015
Tambah Komentar
Assalamu'alaikum
Yo, konnichiwa minna
Wah udah hampir dua bulan nih bro belum nambah postingan. Harap maklumlah, baru pulang dari prajabatan. Ada yang tau arti prajabatan? prajabatan adalah sebuah diklat atau pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti CPNS sebagai syarat untuk diangkat menjadi PNS. Istilah umumnya prajab. Betul saya masih CPNS. Do'akan ya, agar segera menjadi PNS segera pula. Aamiin. Just wait the Time baby!
Ngomong-ngomong tentang prajab. Sekitar lebih dari dua minggu yang lalu, saya baru saja mengikuti diklat prajabatan di daerah sumber ASAP. Ya, Pekan Baru, Riau. Kebayang dong gimana rasanya ngotorin paru-paru? Bagi orang yang perokok mungkin nggak perlu lagi keluar biaya buat beli rokok. Toh sama-sama ngirup asap, gratis lagi. Bagi yang bukan perokok kayak saya, waduh repot gan. Tarik nafas, tahan nafas, pake masker, macam penderita penyakit asma. Sesak.
Saya berangkat dari Bengkulu menuju Riau pada tanggal 27 September 2015. Sebelumnya diawali dengan pengumuman diklat 5 hari sebelum berangkat. Bro bayangin aja, 5 hari sebelum berangkat pengumuman baru disebarkan. Kayak orang kebelet boker aja, belum ngurus persyaratannya lagi. Beuh. Tapi, alhamdulillah semua persyaratan dalam jangka waktu 4 hari udah kelar.
Awalnya saya targetkan berangkat hari H dan sampai tujuan sebelum registrasi dimulai pukul 15.00 WIB. Ya, tanggal 27 september adalah tanggal registrasi. Tapi, apalah daya bro. Keberangkatan saya sejak subuh dari bengkulu, transit ke jakarta dan menunggu selama 4 jam (macam kambing congek :v) yang rencananya berangkat ke riau pukul 10.40 sampai ke riau 12.30 menjadi tertunda karena musibah kabut asap akibat ulah manusia laknat serakah.
Nanti-menanti kabar keberangkatan yang tak kunjung jelas mengingat kondisi kabut asap yang tengah merambah riau sudah berada pada level berbahaya. Jarak pandang yang saat itu dikabarkan petugas hanya sekitar 100 meter. Buseeet. 100 meter bro. Jarak pandang yang belum layak untuk melakukan penerbangan karena tidak sesuai dengan standar keselamatan penerbangan. Alhasil, saya bersemedi di bandara menanti kabar kepastian terbang.
Saya pergi menemui Customer Service pihak maskapai LA meminta kejelasan & solusi penerbangan CKG-PKU. Singkat cerita keberangkatan saya tetap menunggu kabut asap berkurang dan jarak pandang minimal 1500 meter. Saya diberikan dua alternatif, pertama mengganti jadwal penerbangan (reschedule) setiap 2 jam sekali dengan harapan kondisi kabut asap berkurang dan jarak pandang membaik. Kedua mengganti rute (reroute) penerbangan ke kampung orang tua saya. Padang. Jelas, kalau ganti rute ada uang tambahan yang harus dibayar untuk mengganti tiket baru. Belum lagi naik bus atau mini bus ke pekan barunya. Ada tambahan lagi tentunya. Mengingat kondisi keuangan saya saat itu pas-pas makan. Saya memilih solusi pertama Re-Schedule.
To Be Continued, Jemput ponakan dulu bro. Ntar kita sambuung lagi
Saya berangkat dari Bengkulu menuju Riau pada tanggal 27 September 2015. Sebelumnya diawali dengan pengumuman diklat 5 hari sebelum berangkat. Bro bayangin aja, 5 hari sebelum berangkat pengumuman baru disebarkan. Kayak orang kebelet boker aja, belum ngurus persyaratannya lagi. Beuh. Tapi, alhamdulillah semua persyaratan dalam jangka waktu 4 hari udah kelar.
Awalnya saya targetkan berangkat hari H dan sampai tujuan sebelum registrasi dimulai pukul 15.00 WIB. Ya, tanggal 27 september adalah tanggal registrasi. Tapi, apalah daya bro. Keberangkatan saya sejak subuh dari bengkulu, transit ke jakarta dan menunggu selama 4 jam (macam kambing congek :v) yang rencananya berangkat ke riau pukul 10.40 sampai ke riau 12.30 menjadi tertunda karena musibah kabut asap akibat ulah manusia laknat serakah.
Nanti-menanti kabar keberangkatan yang tak kunjung jelas mengingat kondisi kabut asap yang tengah merambah riau sudah berada pada level berbahaya. Jarak pandang yang saat itu dikabarkan petugas hanya sekitar 100 meter. Buseeet. 100 meter bro. Jarak pandang yang belum layak untuk melakukan penerbangan karena tidak sesuai dengan standar keselamatan penerbangan. Alhasil, saya bersemedi di bandara menanti kabar kepastian terbang.
Saya pergi menemui Customer Service pihak maskapai LA meminta kejelasan & solusi penerbangan CKG-PKU. Singkat cerita keberangkatan saya tetap menunggu kabut asap berkurang dan jarak pandang minimal 1500 meter. Saya diberikan dua alternatif, pertama mengganti jadwal penerbangan (reschedule) setiap 2 jam sekali dengan harapan kondisi kabut asap berkurang dan jarak pandang membaik. Kedua mengganti rute (reroute) penerbangan ke kampung orang tua saya. Padang. Jelas, kalau ganti rute ada uang tambahan yang harus dibayar untuk mengganti tiket baru. Belum lagi naik bus atau mini bus ke pekan barunya. Ada tambahan lagi tentunya. Mengingat kondisi keuangan saya saat itu pas-pas makan. Saya memilih solusi pertama Re-Schedule.
To Be Continued, Jemput ponakan dulu bro. Ntar kita sambuung lagi
Belum ada Komentar untuk "Kabut Asap"
Posting Komentar